Cerdas Gunakan Antibiotik

Antibiotik Bagi Pasien Cerdas: Do’s and Do Not’s

“Dok, batuk saya sudah 3 hari nggak hilang-hilang nih. Kasih antibiotik dong…”

Terdengar familiar? Tentu. Bahkan mungkin beberapa dari kita sering mengucapkannya.

Lalu biasanya apa reaksi sang dokter?

“Untuk saat ini belum perlu antibiotik, kok. Kalau minum obat sembarangan, nanti kumannya malah jadi kebal lho.”

Kok bisa begitu, ya? Padahal selama ini antibiotik dikenal luas di masyarakat sebagai obat penyembuh segala rupa penyakit. Mulai dari demam, nyeri tenggorok, batuk, pilek, mual, muntah, mencret, lemas, tidak nafsu makan, hingga sulit tidur.

Tapi tidak banyak orang yang tahu, bahwa menggunakan obat antibiotik yang tidak sesuai tempatnya malah dapat memungkinkan bakteri untuk menjadi kebal.

Kalau ibaratnya antibiotik adalah senjata dalam perang, pemakaiannya yang tidak efektif hanya akan “memukul mundur” pasukan lawan alias kuman, tapi tidak membunuh semuanya. Segelintir musuh yang tersisa inilah yang berbahaya – mereka bisa bermutasi dan mengubah diri menjadi lebih kuat, karena sudah tahu bentuk senjata kita.

Akibatnya bisa ditebak: Kuman bergerilya menyerang balik, sehingga tubuh pun sukses menjadi sakit.

Sekarang bayangkan jika kuman-kuman kebal tadi berkembang biak dan menyebar ke mana-mana. Waduh, ngeri sekali ya? Isu resistensi antibiotik memang merupakan masalah yang perlu perhatian dari kita semua. Tidak hanya tenaga kesehatan saja lho yang harus aktif, Anda sebagai pasien cerdas juga merupakan pihak yang sama pentingnya dalam pencegahan masalah ini. Yuk intip tips bagaimana caranya menggunakan antibiotik dengan bijak!

Apa yang harus dilakukan:

– Ingat bahwa antibiotik yang dikonsumsi tanpa adanya infeksi kuman hanya akan merugikan tubuh Anda karena dapat meningkatkan beban organ hati dan ginjal Anda dengan sia-sia.

– Sebagian besar kasus penyakit sebetulnya bukan disebabkan oleh kuman, sehingga pengobatan terbaik untuk penyakit Anda adalah mengurangi gejala Anda, bukan antibiotik.

– Minumlah antibiotik yang diresepkan sesuai dosis dan sampai habis, persis seperti instruksi dokter Anda. Jika karena satu dan sebab lainnya dokter menginstruksikan Anda untuk menghentikan antibiotik yang Anda minum, buanglah sisa obat di tempat yang aman.

– Tanyakan pada dokter Anda tentang vaksin dianjurkan untuk Anda dan keluarga Anda. Saat ini, sudah ada vaksin untuk penyakit-penyakit yang sering ditemui seperti flu dan infeksi paru, lho! Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Apa yang tidak boleh dilakukan:

– Jangan pernah melewatkan dosis atau berhenti minum antibiotik sebelum waktunya, bahkan jika Anda tidak lagi merasa sakit, kecuali dokter menginstruksikan Anda untuk melakukannya.
– Sebaiknya jangan menekan dokter Anda untuk meresepkan antibiotik (termasuk meminta langsung seperti percakapan di atas).
– Jangan simpan antibiotik untuk “cadangan” saat kali berikutnya Anda menjadi sakit.
– Jangan pernah minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain.
– Jangan pernah menggunakan antibiotik untuk infeksi virus, karena tidak akan mempan. Antibiotik TIDAK menyembuhkan infeksi virus, yang sering muncul dengan bentuk:
● Flu
● Sebagian besar sakit tenggorokan
● Sebagian besar batuk dan bronkitis (“pilek dada”)
● Infeksi sinus
● Infeksi telinga
● Gatal pada kulit

Jika penyakit di atas memang benar adanya disebabkan oleh infeksi kuman, barulah dokter Anda akan meresepkan antibiotik.

Psst! Salah satu tanda dari infeksi kuman adalah gejala infeksi yang menetap terus-menerus selama lebih dari satu minggu.

Berbeda dari infeksi kuman, kebanyakan infeksi virus akan sembuh sendiri tanpa antibiotik setelah satu minggu. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir!

Sumber artikel∷beranisehat.com

| Reiva Wisdharilla
———–
Yuk Sebarkan, Semoga Bermanfaat :)