PENGOBATAN kanker DENGAN TANAMAN OBAT


Penyakit kanker juga dapat diobati dengan tanaman obat. Berbeda dengan pengobatan kanker menggunakan obat sintetik yang dapat diberikan sebagai obat utama atau sebagai terapi tambahan (adjuvant), pengobatan dengan obat berasal dari tanaman dapat pula dimaksudkan untuk usaha pencegahan (kemopreventif). Adapun tujuan pengobatan kurang lebih sama dengan obat sintetik seperti kemoterapi, imunoterapi atau terapi paliatif dan nyeri kanker, dalam prakteknya pengobatan selalu menggunakan terapi kombinasi dari beberapa macam tanaman obat dengan memperhatikan efek samping yang mungkin terjadi.

Tanaman Suku Cruciferae

Termasuk dalam suku ini adalah kubis, sawi, lobak, broccoli, Brussel sprouts, Cauliflower, dan tanaman lain yang berdaun hijau, terutama dari genus Brassica. Pemakaian genus Brassica dalam pengobatan kanker lebih banyak ditujukan untuk tujuan pencegahan (kemopreventif) yang didukung oleh data eksperimental laboratorium maupun data epidemiologi. Khasiat antitumornya karena adanya efek protektif dari Brassica disebabkan terutama oleh kandungan senyawa glukosinalat atau indol metal glukosinalat dan lebih dikenal lagi sebagai glukobrassin. Oleh pH asam dalam lambung dan oleh enzim mirosinase glukosinalat terhidrolisis menjadi senyawa indolik poliaromatik seperti indol-3-karbinol (13C) dan senyawa isotiosianat (3,4,5,6). Mekanisme protektif dari senyawa isotiosianat dengan cara memodulasi metabolisme karsinogen melalui induksi enzim fase 2 detoksikasi dan dengan cara menghambat enzim fase 1 yang mengaktivasi karsinogen. Isotiosianat akan diekskresikan melalui urin dalam bentuk metabolitnya terutama ditiokarbamat, pH asam dalam lambung selanjutnya akan merubah senyawa indol-3 karbinol menjadi berbagai produk kondensat mulai dari bentuk linier, dimmer-siklik, trimmer dan tetramer membentuk senyawa heterosiklik seperti indokarbazol. Kondensat indol inilah yang bertanggung jawab terjadinya proses alterasi dalam metabolisme karsinogen.

Solanum nigrum L

Nama daerah terong ranti, bahan yang digunakan buah yang belum masak. S. nigrum L atau yang dikenal sebagai black nightshade mempunyai beberapa khasiat di antaranya hepatoprotektif, antitumor, dan antidepresan. Eksperimen laboratorium antineoplastik dari glikosida steroid S. nigrum yang terdiri dari beta-2-solamagrin,  solamagrin, dan degalaktotigonin terhadap 6 macam kultur cell line tumor padat manusia HT-29 (kolon), LNCaP (prostat), PC3 (prostat), T47D (payudara) dan MDAMB-231 (payudara). Ternyata solamagrin adalah antineoplastik yang paling poten (14). Kadar solamagrin tertinggi terdapat dalam ekstrak dari buah yang belum masak  sebesar 4,2%. Studi case control terhadap diet buah S. nigrum dilakukan di Afrika Selatan dimana karsinoma sel squamosa dari esophagus bersifat endemik. Hasil studi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kasus kanker esophagus dengan diet jagung,  kacang-kacangan, dan pumpkin, serta terdapat pula hubungan yang signifikan antara penurunan kasus kanker esophagus perokok dengan mengkonsumsi buah S.nigrum. Diperkirakan kandungan dalam buah S.nigrum berkhasiat sebagai protease inhibitor, jika terjadi hambatan terhadap enzim protease inhibitor akan terjadi over-ekspresi dari faktor pertumbuhan dan merangsang proliferasi onkogen. Menurut Chang et al. alkaloid total dari ekstrak buah yang belum masak S. nigrum pada dosis 50 –500 mcg/ml dapat menghambat 40-50% pertumbuhan sel tumor meningeal yang ditransplantasikan ke dalam tubuh hewan percobaan. Solamagrin mempunyai efek sitotoksik yang paling tinggi, pada dosis 10 mcg/ml dapat menyebabkan disintegrasi kultur sel HeLa setelah 15 jam kontak. Ekstrak S. nigrum juga menghambat pertumbuhan ascetic sarcoma 180 sebesar 30%. Studi klinik penggunaan S. nigrum dalam pengobatan karsinoma menyebutkan bahwa sediaan dekok atau parenteral dari ekstrak seluruh bagian tanaman telah digunakan terhadap 95 kasus berbagai macam penyakit malignasi seperti karsinoma dari serviks, esophagus, payudara, paru dan hati. Efek yang diperoleh di antaranya antiinflamasi, detoksifikasi, peningkatan nafsu makan dan kondisi mental serta remisi dari symptom dan signs. Remisi total diperoleh pada pemakaian ekstrak S. nigrum pada pengobatan khorioepitelioma, karsinoma indung telur, hepatoma, dan sarcoma.

Catharanthus roseus / Vinca rosea

Tanaman ini memiliki nama daerah tapak dara, dan bahan yang digunakan untuk pengobatan adalah daun. Vinca roses tergolong dalam suku Periwinkle (Apocynaceae). Daun dan akarnya diketahui mengandung lebih dari 60 macam alkaloida, di antaranya yang sangat terkenal adalah vinkristin dan vinblastin, yang telah dibuat secara semisintetik dalam bentuk 5’nor-vinca-alkaloid dengan memodifikasi ikatan aromatik catharanin sehingga dapat digunakan secara per oral dan dikenal sebagai Vinorelbin (Navelbin). Ketiga alkaloid tersebut sangat poten menghambat polimerisasi mikrotubuli mitotik sehingga dapat menghambat proses mitosis pada metafase. Dalam pengujian menggunakan tubulin otak babi, proses self association dengan tubulin di antara ketiganya, ternyata vinkristin memiliki afinitas tertinggi, sedangkan vinorelbin terrendahPengujian invivo tentang akumulasi dalam jaringan tubuh dan ekskresi melalui empedu terhadap vinkristin dan vinblastin ternyata vinkristin terdistribusi lebih luas dalam jaringan tubuh, akumulasi tertinggi terdapat dalam usus halus (122 ng/g jaringan basah setelah 24 jam), 47 ng/g dalam hati dan 44, 4 ng/g dalam ginjal. Ekskresi melalui empedu tercepat pada vinkristin (42,7% dari total ekskresi setelah 24 jam) dibandingkan dengan vinblastin (28,2% dari total ekskresi setelah 24 jam). Pengaruh pemakaian vinkristin dan vinblastin terhadap sistem imun tubuh diamati terhadap sel mononuklir dalam limfa tikus (splenosit) dan ternyata keduanya menghambat sekresi IL-2 setelah dirangsang dengan mitogen konkanavalin-A pada dosis 0,1 mg/kg BB untuk vinkristin dan 0,5 mg/kg BB pada vinblastin. Terhadap sel makrofag peritoneal, ternyata keduanya tidak merangsang aktifitas makrofag setelah dirangsang dengan lipopolisakarida (LPS) dengan pengamatan sekresi IL-1, jadi keduanya tidak mempunyai efek terhadap sekresi IL-1 oleh sel-sel makrofag.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Novianti, F.A & Purnami, S.W. 2012. Analisis Diagnosis Pasien Kanker Payudara Menggunakan Regresi Logistik dan Support Vector Machine (SVM) Berdasarkan Hasil Mamografi. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ma’at, S. 2003. Tanaman obat untuk pengobatan kanker. Surabaya: Fakultas Kedokteran UNAIR/RSUD Dr. Soetomo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>